Memahami Continuous Monitoring

Memahami Continuous Monitoring

 

Saat ini, organisasi di seluruh dunia menghadapi tantangan yang baru yang belum pernah terjadi sebelumnya. Yakni, untuk mengamankan dan mengoptimalkan infrastruktur dan lingkungan TI berbasis cloud yang dari tahun ke tahun, tampaknya semakin kompleks. Dengan aplikasi yang semakin banyak pada cloud yang berbeda pula, tim keamanan TI harus berkolaborasi secara efektif dan menerapkan solusi yang ada, untuk meminimalisir risiko keamanan sambil tetap mempertahankan kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku.

Sepertinya merupakan hal yang kompleks ya? Untuk memudahkan pemahaman kita akan mencoba membedahnya dengan national brake policy yang diterapkan oleh Gubernur DKI Jakarta untuk memperlambat laju penyebaran virus corona.

Bagaimana sih kesamaannya? Simak terus ya artikel ini.

Keputusan National brake Policy untuk melakukan PSBB lanjutan mulai tanggal 14 Septemer – 29 September 2020 ini, diambil pemerintah DKI Jakarta karena laju penyebaran virus corona yang mengkhawatirkan. Bahkan, mencapai lebih dari 2000 orang perharinya. Dengan laju yang demikian itu, ketersedian ruangan khusus isolasi akan mencapai titik kritisnya diangka 4053 yag berdasarkan proyeksi kurva Dinas Kesehatan akan terjadi pada tanggal 17 September 2020.

Data terkait corona, dikumpulkan setidaknya setiap hari, melalui lab-lab uji di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) dan Dinas Kesehatan. Tujuannya tak lain ialah untuk memantau perkembangan pandemi yang sedang terjadi. Proses pemantauan melalui serangkaian pengumpulan data inilah yang disebut dengan continuous monitoring. Sehingga, sebelum memasuki fase kritis, pemerintah dapat memitigasi risiko yang mungkin terjadi.

Sama seperti continuous monitoring dalam menangani pandemi, continuous monitoring dalam security operation center juga memiliki peranan yang sama yakni:

1. Untuk memberi analis keamanan dan operasi

Untuk TI data yang diambil bersifat real time, karena tidak membutuhkan prosedur yang panjang dan dapat diotomasi, terkhusus terkait kesehatan infrastruktur TI secara keseluruhan, termasuk jaringan dan aplikasi yang digunakan di cloud.

2. Untuk meningkatkan visibilitas dan transparansi aktivitas

Dalam SOC terutama aktivitas jaringan yang mencurigakan dapat mengindikasikan pelanggaran keamanan, dan untuk mengurangi risiko serangan dunia maya dengan sistem peringatan yang tepat waktu yang memicu respons insiden cepat.

3.Memantau kinerja operasional

Jika dalam pandemi yang dinilai merupakan operasional terkait kinerja program yang dilangsungkan, operasional dalam SOC berkenaan dengan aplikasi perangkat lunak. Dengan continuous monitoring, tim TI dapat mendeteksi masalah kinerja aplikasi, mengidentifikasi penyebabnya, dan menerapkan solusi sebelum masalah tersebut menyebabkan downtime aplikasi yang tidak direncanakan dan hilangnya pendapatan.

4. Pada akhirnya, tujuan pemantauan berkelanjutan adalah untuk memberi umpan balik. Yang dalam organisasi TI, dilakuakn secara real time, terkait kinerja dan interaksi di seluruh jaringan, yang membantu mendorong kinerja operasional, keamanan, dan bisnis.

Bagaimana Menerapkan Continuosu Monitoring?

Vendor perangkat lunak membuat solusi yang kuat dan serbaguna yang memungkinkan organisasi TI untuk secara efektif memantau lalu lintas jaringan, mendeteksi anomali atau pola aktivitas yang mencurigakan, dan mengembangkan wawasan yang dapat ditindaklanjuti. Untuk mencari tahu lebih lanjut terkait bagaimana Proxsis Biztech dapat melakukan Continuous Monitoring dan membantu organisasi Anda, jangan ragu untuk menghubungi kami via chat atau whatsapp.

 

Bagikan Artikel:

Artikel Lainnya

Menu
Open chat